Banyak
manusia sampai yang masih mempertanyakan kebenaran akan agama. Apalagi di era
modern saat ini, dimana harta dan tahta sudah seperti Tuhan bagi banyak
manusia. Hal itu dikarenakan beberapa manusia mulai berfikir dan berfilsafah
akan penciptaan manusia sendiri sehingga banyak muncul pertanyaan akan
kebenaran agama. Manusia menggunakan logikanya dalam berfikir tentang kebenaran
suatu agama, ada yang berfikir apakah agama yang mereka anut adalah agama yang
benar, atau lebih parah lagi manusia berfikir jika tidak adanya kehidupan
setelah mati.
Salah
satu pertanyaan yang sering muncul di pikiran manusia saat ini adalah “Tuhan
mengetahui segalanya. Daun yang jatuh,
debu yang tertiup angin, air yang mengalir, musim dan lain sebagainya. Sebelum
Tuhan menciptakan jagat raya ini, Tuhan juga mengetahui jika manusia akan
merusak segalanya, Tuhan juga tahu jika manusia akan dikurung dan dibakar dalam
api neraka yang tak pernah padam dan pada saat itulah manusia mau bertobat atas
perbuatannya. Akan tetapi, Tuhan malah memberikan manusia suatu cobaan dan
memerintahkan manusia sebagai umat Tuhan untuk mematuhi ajarannya dan
menyembahNya. Jika Tuhan sudah mengetahui segalanya sebelum Tuhan menciptakan
jagat raya ini dan hasilnya manusia akan merusak dan menentang ajarannya,
mengapa Tuhan membuat semua ini terjadi. Betapa sadisnya Tuhan dalam
berkeputusan padahal Tuhan bisa menyelamatkan manusia yang merusak bumi dan
tidak mengikuti ajarannya dengan tidak menciptakannya. Tuhan begitu agung,
Tuhan bisa menciptakan segalanya dengan mudah, dengan mengucapkan “kun fayakun”,
Tuhan bisa menciptakan segalanya. Mengapa manusia masih saja di perintahkan
untuk mengagungkanNya padahal dia bisa menciptakan semua itu dengan mudah”.
Setelah
mendengar pertanyaan itu, kebanyakan manusia akan mulai berfikir tentang
kebenaran yang ada pada pertanyaan tersebut. Penulis juga sempat merasa
terganggu akan pertanyaan itu. Setelah mencari beberapa yang memuaskan karena
penulis termasuk orang-orang yang menggunakan logika dan ilmu pengetahuan dalam
mendeskripsikan sesuatu, penulis menemukan satu jawaban yang di nilai sempurna
dalam menjawab keraguan yang ada dalam pertanyaan tersebut.
Dalam
sumber yang penulis temukan, Dr. Zakir Naik menggambarkan pertanyaan tersebut
dalam sebuah perumpamaan. Perumpamaan yang beliau paparkan adalah hubungan
antara guru (Tuhan) dan muridnya (ciptaanNya). Dalam sebuah sekolah, guru
selalu memberikan sebuah ujian kepada muridnya seperti “berapakah jumlah atara
2+2 ?”, ada kemungkinan murid menjawab 4 (jawaban yang benar) dan ada juga yang
menjawab yang salah. Jika guru tersebut membenarkan jawaban yang salah misal
salah satu murid menjawab 5 dan sang guru berkata “gantilah jawaban itu dengan
4”, apakah tindakan itu adil ? bagaimana dengan murid yang menjawab benar ?
mungkin beberapa pembaca berpendapat bahwa hubungan Tuhan dan manusia tidak
sederhana itu, akan tetapi bagi seseorang yang berfikir akan mulai memutar
otaknya dengan perumpaan tersebut. Disitu guru bisa saja tidak memberikan ujian
kepada muridnya dikarenakan bisa saja muridnya ada yang salah dalam menjawab
ujiannya. Akan tetapi sang guru pasti telah mengetahui murid mana yang pasti
bisa mengerjakan dan menjawab dengan benar ujiannya. Tuhan pun demikian, jika
Tuhan hanya menginginkan ciptaannya yang hanya patuh tanpa kepadaNya, Tuhan
telah menciptakan malaikat yang tidak pernah sekali pun menentang perintahNya. Tetapi
Tuhan menciptakan manusia yang lebih sempurna daripada malaikat yaitu manusia. Manusia
lebih sempurna karena manusia bisa melakukan sesuatu dengan kehendaknya
sedangkan malaikat tidak. Manusia bisa menentang perintah Tuhan atau
mengikutinya, jika manusia mengikuti perintahNya akan masuk surga dan yang
menentangnya akan masuk neraka. Malaikat hanya bisa mematuhi perintahNya karenakan
tidak memiliki kehendak dan itu tidak sehebat manusia yang bisa saja menentang
perintahNya dan lebih memilih mematuhi perintahNya. Dalam surat Al-araaf [7]
ayat 172 mengatakan:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ
مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ
بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS: Al-A'raf Ayat: 172)
Dengan membaca ayat tersebut
beserta terjemahannya, menyebutkan bahwa manusia lah yang bodoh telah memilih
hidup sebagai manusia dan mengajukan diri untuk mengikuti ujiannya. Untuk saat
ini, manusia tidak mundur akan ujian itu. Manusia tidak akan ingat akan
pertanyaan itu. Sebelum manusia dilahirkan, dia ditanya “apakah kamu ingin jadi
manusia ? jika kamu menjadi manusia, kamu akan lebih baik daripada malaikat
atau jauh lebih buruk. Jika kamu tidak menginginkannya maka tidak apa-apa” dan
kemudian ingatan itu dihilangkan. Manusia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi
selain menjalankan perintahNya, Quran berfirman dalam Surat Al – Mu’minun [23]
99-100 yang berbunyi:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga
apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang
telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari
mereka dibangkitkan.” (QS
Al-Mu’minun: 99-100).”
Manusia dengan bodohnya
memilih untuk menjadi manusia agar lebih baik daripada malaikat sebagai
ciptaanNya yang hanya patuh kepadaNya. Akan tetapi mengapa Tuhan menghilangkan
ingatan kita agar kita bisa menentang perintahNya ? Dr. Zakir sekali lagi
mambuat perumpamaan yang bagus dalam menjawab pertanyaan tersebut dan tetap
tentang hubungan antara guru dan murid. Dalam sebuah ujian, tentu setiap murid
diberikan buku panduan tentang ujian tersebut. Jika dalam sebuah ujian guru
dengan kehendaknya membolehkan muridnya membaca buku panduan dalam ujiannya,
lantas dimana letak ujian yang sesungguhnya ? Murid tidak diperkenankan untuk
membaca buku panduan dalam mengerjakan ujian. Setelah ujiannya berakhir barulah
murid bisa cek ulang apakah jawabannya benar atau salah. Begitulah yang dialami
manusia seperti yang disebutkan dalam firmanNya.
Paparan diatas dirasa telah
menjawab bagian-bagian pertanyaan yang sering mengganggu pikiran manusia. Jadi apakah
kita sebagai manusia masih sanggup untuk menentang perintahNya dan berani
mempertanyakan keberadaan Tuhan ? Naudzubillah. Semoga dengan adanya sedikit
tulisan ini, manusia bisa semakin dekat dengan Tuhan yaitu ALLAH SWT. AMIIIN
Sumber :