Senin, 10 November 2014



Banyak manusia sampai yang masih mempertanyakan kebenaran akan agama. Apalagi di era modern saat ini, dimana harta dan tahta sudah seperti Tuhan bagi banyak manusia. Hal itu dikarenakan beberapa manusia mulai berfikir dan berfilsafah akan penciptaan manusia sendiri sehingga banyak muncul pertanyaan akan kebenaran agama. Manusia menggunakan logikanya dalam berfikir tentang kebenaran suatu agama, ada yang berfikir apakah agama yang mereka anut adalah agama yang benar, atau lebih parah lagi manusia berfikir jika tidak adanya kehidupan setelah mati.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul di pikiran manusia saat ini adalah “Tuhan mengetahui segalanya.  Daun yang jatuh, debu yang tertiup angin, air yang mengalir, musim dan lain sebagainya. Sebelum Tuhan menciptakan jagat raya ini, Tuhan juga mengetahui jika manusia akan merusak segalanya, Tuhan juga tahu jika manusia akan dikurung dan dibakar dalam api neraka yang tak pernah padam dan pada saat itulah manusia mau bertobat atas perbuatannya. Akan tetapi, Tuhan malah memberikan manusia suatu cobaan dan memerintahkan manusia sebagai umat Tuhan untuk mematuhi ajarannya dan menyembahNya. Jika Tuhan sudah mengetahui segalanya sebelum Tuhan menciptakan jagat raya ini dan hasilnya manusia akan merusak dan menentang ajarannya, mengapa Tuhan membuat semua ini terjadi. Betapa sadisnya Tuhan dalam berkeputusan padahal Tuhan bisa menyelamatkan manusia yang merusak bumi dan tidak mengikuti ajarannya dengan tidak menciptakannya. Tuhan begitu agung, Tuhan bisa menciptakan segalanya dengan mudah, dengan mengucapkan “kun fayakun”, Tuhan bisa menciptakan segalanya. Mengapa manusia masih saja di perintahkan untuk mengagungkanNya padahal dia bisa menciptakan semua itu dengan mudah”.
Setelah mendengar pertanyaan itu, kebanyakan manusia akan mulai berfikir tentang kebenaran yang ada pada pertanyaan tersebut. Penulis juga sempat merasa terganggu akan pertanyaan itu. Setelah mencari beberapa yang memuaskan karena penulis termasuk orang-orang yang menggunakan logika dan ilmu pengetahuan dalam mendeskripsikan sesuatu, penulis menemukan satu jawaban yang di nilai sempurna dalam menjawab keraguan yang ada dalam pertanyaan tersebut.
Dalam sumber yang penulis temukan, Dr. Zakir Naik menggambarkan pertanyaan tersebut dalam sebuah perumpamaan. Perumpamaan yang beliau paparkan adalah hubungan antara guru (Tuhan) dan muridnya (ciptaanNya). Dalam sebuah sekolah, guru selalu memberikan sebuah ujian kepada muridnya seperti “berapakah jumlah atara 2+2 ?”, ada kemungkinan murid menjawab 4 (jawaban yang benar) dan ada juga yang menjawab yang salah. Jika guru tersebut membenarkan jawaban yang salah misal salah satu murid menjawab 5 dan sang guru berkata “gantilah jawaban itu dengan 4”, apakah tindakan itu adil ? bagaimana dengan murid yang menjawab benar ? mungkin beberapa pembaca berpendapat bahwa hubungan Tuhan dan manusia tidak sederhana itu, akan tetapi bagi seseorang yang berfikir akan mulai memutar otaknya dengan perumpaan tersebut. Disitu guru bisa saja tidak memberikan ujian kepada muridnya dikarenakan bisa saja muridnya ada yang salah dalam menjawab ujiannya. Akan tetapi sang guru pasti telah mengetahui murid mana yang pasti bisa mengerjakan dan menjawab dengan benar ujiannya. Tuhan pun demikian, jika Tuhan hanya menginginkan ciptaannya yang hanya patuh tanpa kepadaNya, Tuhan telah menciptakan malaikat yang tidak pernah sekali pun menentang perintahNya. Tetapi Tuhan menciptakan manusia yang lebih sempurna daripada malaikat yaitu manusia. Manusia lebih sempurna karena manusia bisa melakukan sesuatu dengan kehendaknya sedangkan malaikat tidak. Manusia bisa menentang perintah Tuhan atau mengikutinya, jika manusia mengikuti perintahNya akan masuk surga dan yang menentangnya akan masuk neraka. Malaikat hanya bisa mematuhi perintahNya karenakan tidak memiliki kehendak dan itu tidak sehebat manusia yang bisa saja menentang perintahNya dan lebih memilih mematuhi perintahNya. Dalam surat Al-araaf [7] ayat 172 mengatakan:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS: Al-A'raf Ayat: 172)
Dengan membaca ayat tersebut beserta terjemahannya, menyebutkan bahwa manusia lah yang bodoh telah memilih hidup sebagai manusia dan mengajukan diri untuk mengikuti ujiannya. Untuk saat ini, manusia tidak mundur akan ujian itu. Manusia tidak akan ingat akan pertanyaan itu. Sebelum manusia dilahirkan, dia ditanya “apakah kamu ingin jadi manusia ? jika kamu menjadi manusia, kamu akan lebih baik daripada malaikat atau jauh lebih buruk. Jika kamu tidak menginginkannya maka tidak apa-apa” dan kemudian ingatan itu dihilangkan. Manusia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menjalankan perintahNya, Quran berfirman dalam Surat Al – Mu’minun [23] 99-100 yang berbunyi:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 99-100).”
Manusia dengan bodohnya memilih untuk menjadi manusia agar lebih baik daripada malaikat sebagai ciptaanNya yang hanya patuh kepadaNya. Akan tetapi mengapa Tuhan menghilangkan ingatan kita agar kita bisa menentang perintahNya ? Dr. Zakir sekali lagi mambuat perumpamaan yang bagus dalam menjawab pertanyaan tersebut dan tetap tentang hubungan antara guru dan murid. Dalam sebuah ujian, tentu setiap murid diberikan buku panduan tentang ujian tersebut. Jika dalam sebuah ujian guru dengan kehendaknya membolehkan muridnya membaca buku panduan dalam ujiannya, lantas dimana letak ujian yang sesungguhnya ? Murid tidak diperkenankan untuk membaca buku panduan dalam mengerjakan ujian. Setelah ujiannya berakhir barulah murid bisa cek ulang apakah jawabannya benar atau salah. Begitulah yang dialami manusia seperti yang disebutkan dalam firmanNya.
Paparan diatas dirasa telah menjawab bagian-bagian pertanyaan yang sering mengganggu pikiran manusia. Jadi apakah kita sebagai manusia masih sanggup untuk menentang perintahNya dan berani mempertanyakan keberadaan Tuhan ? Naudzubillah. Semoga dengan adanya sedikit tulisan ini, manusia bisa semakin dekat dengan Tuhan yaitu ALLAH SWT. AMIIIN
Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar